Sabtu, 22 Desember 2012

Sebuah Cerita tentang Hujan



Hujan,
iya hujan.

Tidakkah kau rindu, untuk bersenandung bersamanya.
Dia datang mengajakmu bermain, dan mengingat masa - masa yang pernah sangat indah.
Kau bersembunyi.
Ia mengetuk atap serta jendela kamarmu, kau justru marah. Duh, hujan bisa nggak datangnya lain hari aja, mau jalan sama yayang ku nih

hehehe hhhh....
Mungkin kita hanya lupa,
bahwa bermandikan hujan, bersama riuh tawa bahagia dengan kaki yang telanjang tak beralas adalah surga.
Sungguh kita lupa.
Kini, saat hujan datang kita berlari mencari tempat aman untuk berteduh. Lalu kita merasa nyaman, sebenarnya kita lari dari kebahagiaan yang turun dari langit.

Atau ketika ia datang kita hanya menatap lekat melalui jendela, dan menggerutu dalam hati : hujan, kapan kau berhenti ?
Atas nama schedul, deadline, dan semua keriuhan yang memenuhi pikiran, kita jadi membenci hujan.

Kita terlalu sibuk,
mencari penjelasan atas hidup yang sering kali klise,
Kita tidak punya lagi waktu,
selain menemukan definisi tentang cinta yang tak jarang argumentatif

Tanpa sadar kita berjalan menuju batas yang senyap,
terus menyeret raga menuju sindrom kesunyian


Kenapa tak kau biarkan lagi hujan membelaimu, memeluk, serta menciumi mu.
Tataplah langit, nikmati tiap jatuhnya rintik, rasakan sentuhan tiap tetes nya.
Sentuhan yang selalu lebih baik dibandingkan buaian shower.

Kita tidak perlu alasan deskriptif
Tidak butuh teori ataupun pemikiran penuh statistik
Kita hanya perlu sadar,
hujan, dengan sejuta riuhnya,
memainkan nada mengajakmu bernyanyi.
Bersama semua waktu,
penuh kebahagiaan.
Walau hanya sejenak.




~ “I always like walking in the rain, so no one can see me crying.” Charles Chaplin
0 Comments
Tweets
Komentar

0 komentar:

Posting Komentar