Sabtu 7 Desember 2013 kemarin, gue berkesempatan buat ngobrol – ngobrol asik di Code Margonda –coworking spacenya orang kreatif Depok. Yang intinya, ngomongin street art dan perkembangannya. Ada tiga pembicara yang tampil untuk presentasi hari itu. yang pertama ada Faisal dan Mail, yang merupakan perwakilan dari Milisi Mural Depok. Nah mereka inilah yang bertanggung jawab atas karya – karya mural yang menghiasi tembok – tembok kota Depok. Yang salah satu spotnya bisa lu jumpai di jalan Margonda, di pertigaan lampu merah yang ada persimpangan ke arah jalan Juanda.
Visi mereka sederhana, mengangkat isu – isu sosial yang dekat dengan keadaan masyarakat ( khususnya Kota Depok ) ke dalam bentuk seni mural. Cakep !! Salah satu karya mereka adalah ketika mereka membuat mural dalam rangka menolak pembongkaran sekolah untuk anak jalanan, Master Depok. Tujuan lainnya adalah untuk memperindah kota Depok, jadi Depok nggak sekedar pusat – pusat perbelanjaan dan jalan selingan dari Bogor ke Jakarta atau sebaliknya, gitu kata bang Faisal.
Kalo yang pertama tadi ngomongin mural, nah pembicara kedua ini ngebahas graffiti. Dialah older+, seorang graffiti artist asal Jakarta yang pernah cukup lama tinggal di Bandung. Hal yang dibahas antara lain beberapa tipe graffiti, terus tools yang biasa dipake dalam pembuatan sebuah karya graffiti, dan tentu saja karya – karya older+ sendiri. Gilak,, keren – keren bro !!
![]() | ||
| salah satu karya older+ and the crew |
Nah pembicara terakhir adalah seorang street artist yang lebih menempatkan diri sebagai ‘tukang protes’. Dia adalah Andi RHARHARHA. Mas Andi yang salah satu media karyanya menggunakan lakban ini memang menjadikan street art sebagai jalan perjuangan untuk mengkritisi pemerintahan. Yang dia sendiri, asli kata dia : “ Gue nggak akan tunduk kepada pemerintah dengan alasan apapun, sampe kapanpun “
Hal yang paling sering disuarakan oleh mas Andi itu tentang Negara Indonesia yang tidak bisa dipungkiri adalah sebuah negara yang gagal. Dimana ketidak adilan, korupsi, HAM dan kekerasan atas nama ras atau agama masih sering kita jumpai .
Kalo lu yang belum tau tentang sepak terjang Andi RHARHARHA bisa googling atau mampir langsung ke websitenya. rharharha
Satu hal yang juga dikritisi oleh mas Andi adalah maraknya iklan – iklan yang nampang dengan seenaknya di tempat – tempat umum. Kalo gue sih setuju banget, bahwa bentuk advertising semacem inilah yang sebenarnya sangat merusak sebuah tata kota. Sebagaimana menurut mas Andi, ini adalah bentuk perusakan. Ya sama saja dengan menjual ruang publik untuk kepentingan korporat, yang tentu nggak ada keuntungannya sama sekali untuk masyarakat. Bahkan dengan liar dan lucunya mas Andi menunjukkan beberapa foto karyanya, yang merupakan parodi dari beberapa iklan. Misalnya sedot wc, yang diganti jadi sedot janin. Dan kiriman ekspress, yang diubah jadi jablay ekspress.
Selain itu pula Andi RHARHARHA menceritakan mengenai ISAD ( Indonesian Street Art Database ), yang merupakan sebuah lembaga istilahnya atau sebut saja institusi hasil bentukan beberapa street artist. ISAD yang dibentuk pada akhir 2011 ini merupakan kolaborasi jejaring street artist yang burtujuan untuk mendokumentasikan serta mengarsipkan karya – karya seni jalanan di Indonesia. Keren kan ?
Sebagaimana kita tahu, sebuah karya street art, entah itu mural, graffiti, stencil, ataupun yang lainnya tidak akan abadi. Satu saat akan hilang. Mungkin dihapus oleh pihak yang berwenang dari pemda misalnya, atau bisa jadi ditimpa dengan karya baru oleh seniman lain. Nah untuk itulah pendokumentasian sangat diperlukan dalam street art. Seperti sempat disampaikan older+, sebuah karya graffiti mungkin bisa bertahan beberapa tahun. Atau bahkan ada yang dalam hitungan menit sudah di ‘nodai’ oleh semprotan cat dari orang lain.
Nah dalam hal inilah ISAD berperan, mereka mencoba merekam semua karya street art yang ada di Indonesia. Dengan membangun jaringan bersama pelaku street art di berbagai daerah. Tujuan jangka panjangnya adalah sebagai bahan pembelajaran juga. Karena katanya nih, kalo kita mencari bahan untuk studi mengenai street art di Indonesia itu susah. Buku- bukunya pun berasal dari luar negeri semua. Padahal protes dalam bentuk coretan di ruang publik ini sudah ada sejak masa – masa menjelang kemerdekaan Indonesia loh! Tapi nggak pernah dipublikasikan atau diangkat oleh pemerintah Hmm ?
Dan terakhir mas Andi bercerita tentang beberapa street artist yang menjadi idolanya. Salah satunya adalah BNE. BNE adalah kode nama atau nama seniman yang tentu bukan nama asli. BNE adalah sosok misterius yang sudah menjelajahi berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Di banyak titik di penjuru dunia ada stiker bertuliskan BNE. Dia adalah seniman yang tidak hanya berkarya tapi juga berorientasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik. Upaya yang dia lakukan salah satunya dengan membangun BNE water foundation, yang berjuang untuk mereka yang kesulitan air bersih. Dan Indonesia juga pernah dibantu oleh badan bentukan BNE ini.
Beberapa penampakan stiker BNE :
“gue pangen kayak BNE. Street artist di Indonesia itu banyak, tapi yang punya pandangan kayak BNE masih dikit” gitu kata mas Andi.
Dan Andi RHARHARHA pun menutup diskusi hari itu dengan sebuah quotes : terserah apa persepsi lu atau pandangan lu pada saat lu berkarya, yang penting jangan sampe kehilangan sisi kemanusiaan lu.






