Dikutip dari kolom pendapat harian Tempo. Selasa, 19 November 2013
Oleh : Amarzan Loebis
PADA suatu malam, seseorang menggedor pintu rumah Nasruddin Hoja. Dari
dalam rumah Nasruddin menyergah, "Siapa?!" Yang di luar tak kalah galak,
"Saya menantu Allah!" Tercenung sejenak, Nasruddin melanjutkan
pertanyaan, "Ada apa menantu Allah datang ke sini?" Terdengar jawaban,
"Hendak menumpang bermalam." Terdiam sekejap, Nasruddin berseru, "Tunggu
sebentar!"
Tokoh cerdik cendekia yang di dunia kesufian Timur
Tengah dipanggil Mullah Nasruddin itu segera merapikan kemejanya,
mengenakan jubahnya, memasang tarbusnya, kemudian ke luar rumah.
Dibimbingnya tangan "menantu Allah" itu ke suatu arah, sampai mereka
berhenti di depan masjid. "Bermalamlah di sini," kata Nasruddin. "Ini
rumah mertuamu."
Sudah mulai banyak pelaku politik yang menyebut
tahun yang akan datang, 2014, sebagai "tahun politik". Ini tak ubahnya
membuka kedok sendiri: bagi mereka, berpolitik hanya cukup lima tahun
sekali. Selebihnya apa? Kalau melihat gelagat belakangan ini, selebihnya
mungkin diisi oleh kesibukan menyembunyikan harta curian, menceraikan
istri simpanan, mengatur persekongkolan yang kian terpendam, membayar
lembaga survei yang bisa diajak meningkatkan "elektabilitas
seolah-olah", atau malah mulai berurusan dengan Komisi Pemberantasan
Korupsi.
Ada juga kesibukan yang tak kalah mulia: membentuk
perkumpulan baru non-partai, meski tak jelas tujuannya apa. Perkumpulan
jenis ini bukan main tangguhnya. Begitu terbentuk, misalnya, langsung
terkumpul dana operasional Rp 1 miliar untuk aktivitas setahun ke depan.
Bahwa dana itu kemudian "tersita" oleh para penggeledah Komisi
Pemberantasan Korupsi, tentulah itu urusan kecelakaan belaka.
Pada
saat-saat menyongsong "tahun politik" itulah kita tiba-tiba bersirobok
dengan sejumlah "menantu Allah" yang tak tahu di mana rumah mertuanya.
Wajah mereka muncul dalam berbagai cara yang didesak-desakkan, masuk ke
ruang pribadi kita tanpa diundang karena sebagian mereka menguasai
perangkat penyiaran yang frekuensinya sesungguhnya milik kita pula.
Tanpa rasa malu, mereka berusaha merobek akal sehat dan nalar kritis
kita-bahkan sering dengan cara yang bisa dikategorikan sebagai
kampungan.
Seorang "menantu Allah", misalnya, berjanji jika
terpilih sebagai presiden akan mengutamakan pendidikan. Padahal, semua
orang tahu berapa banyak anak yang telantar pendidikannya karena rumah
dan gedung sekolah mereka terbenam oleh lumpur yang menyembur akibat
hasrat serakah mengeduk perut bumi di bagian timur Pulau Jawa sana.
Ada
pula "menantu Allah" yang bercita-cita menggerakkan segenap potensi
rakyat demi mewujudkan masyarakat adil dan makmur dalam naungan
Indonesia Raya. Alhamdulillah. Cuma, ingatan kolektif kita masih terlalu
singkat untuk melupakan "hal-hal yang belum selesai" dari rekam jejak
"menantu Allah" yang satu ini. Kalau perkara cita-cita, mana ada
"menantu Allah"yang berani menguar-uarkan cita-citanya yang tidak
terpuji?
Makin dekat dengan "hari-H" pemilu, akan semakin banyak
pula "menantu Allah" yang berseliweran di depan ruang kesadaran kita,
mencumbu dengan berbagai rayuan gombal dan rayuan maut, pokoknya dengan
tujuan yang menghalalkan segala cara. Pohon dan taman kota akan dipenuhi
foto-foto raksasa orang-orang yang tidak kita kenal, atau kita kenal
tapi lebih sering kita gunakan sebagai bahan lelucon sontoloyo. Adapun
cita-cita kita sendiri sangatlah sederhana, yakni menuntun tangan
mereka, seperti yang dilakukan Nasruddin terhadap "menantu Allah" yang
mengetuk rumahnya tanpa diundang, dan menunjukkan kepada mereka rumah
"mertua"-nya.
Minggu, 06 April 2014
0 Comments
Tweets
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
