Senin, 11 November 2013

Sebuah Obrolan dengan Soekarno



Masih dalam rangka Sumpah Pemuda ( 28 Oktober ) dan Hari Pahlawan ( 10 November ). Nggak ah kalo harus ngomongin yang berat, filosofis, serta membawa kata Nasionalisme. Gue lebih suka membicarakan sesuatu yang santai dan cenderung informal, oke ? Gue berimajinasi, seandainya Bung Karno bisa ada di sini dan ngobrol asik bareng gue. Apa aja ya yang beliau omongin, terus gimana juga menurutnya tentang Bangsa Indonesia hari ini, Berikut adalah petikan dari ngobrol asik imajiner gue bersama Bung Karno,
Soekarno
Mari kita ngobrol sebentar, ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan.
Saya
Oke, pertama, saya harus panggil apa ? Pak atau...
Soekarno
Bung saja,,
Saya
Sip
Soekarno
Kamu sendiri hafal nggak dengan teks sumpah pemuda ?
Saya
Nggak usah menghafal Bung, kalo perlu tinggal buka google, beres !
Soekarno
Sekarang semuanya mau yang serba cepet ya.
Saya
Ya begitulah.

Soekarno
Zaman saya dulu anak muda itu suka ngumpul – ngumpul, yang diomongin seringkali masalah sosial atau ya seputar perjuangan bangsa. Kalo sekarang ?
Saya
Sekarang ya masih suka ngumpul – ngumpul. Di kafe, manfaatin wi-fi gratis. Yang diomongin paling masalah cinta, gadget terbaru, kalo nggak Liga Eropa.
Soekarno
Begitu ? Itu pemudanya, yang cowok. Bagaimana dengan yang cewek ?
Saya
Topik obrolan paling ngehits masih seputar artis Korea, dunia fashion, film terbaru, dan nikah muda. pffft Yang terakhir itu mungkin sih, banyak juga soalnya yang ngebahas.
Soekarno
Hehehehehe ( Bung Karno terkekeh )
Hanya itu ? nggak suka liat pagelaran budaya atau ada acara sharing gitu, mengenai perjuangan pahlawan kita dulu ?
Saya
Jarang, kalaupun ada rasanya sepi peminat. Karena belum pernah liat aja, ada anak muda update status, ngetwit : “ Acara seru nih, ngebahas pahlawan kita “ terus upload foto kegiatannya di instagram, nggak ada. Mereka lebih suka mantengin acara konser musik atau nonton film terbaru.
Soekarno
Payah, kalau dulu, menjelang kemerdekaan kita itu sering ngumpul malam – malam. Dengerin itu siaran radio, dari sana kita dapat informasi penting mengenai perkembangan bangsa. Lalu informasi itu kita teruskan, kita sebarkan untuk mengobarkan semangat seluruh putra – putri bangsa. Mengobarkan semangat untuk menyongsong kemerdekaan.
Saya
 Hmmm,, seandainya dulu udah ada twitter, facebook, path, atau layanan untuk chat. Pasti lebih efektif untuk menyebarkan informasi itu, Bung.

( Bung Karno terdiam, mungkin dia tidak tahu apa itu twitter, path blablabla blablabla )

Soekarno
Hmm, pemuda dulu berani semua. Banyak dari mereka yang sudah bergabung dalam pendidikan ketentaraan pada usia belasan tahun, bagaimana dengan pemuda sekarang ?
Saya
Sama, anak – anak SMA itu banyak yang bawa bambu, gear, segala macem lah. Tawuran antar sekolah, malah ada juga pemuda yang ribut antar kampung.
Soekarno 
Guendheng... dulu konfrontasi ya antara pribumi dengan penjajah, lha sekarang kok sesama pribumi.

Soekarno
Pemuda di masa saya, tentu bangga jika mereka ikut ambil bagian dalam ketentaraan dan berjuang di garis depan melawan penjajah.
Saya 
Kalau sekarang Bung, yang suka membanggakan diri itu anak pejabat. Mereka suka seenaknya kalo bawa mobil. Ya melanggar rambu lalu lintas, masuk jalur busway, dan sialnya melanggar hak orang lain. Emang sialan tuh anak pejabat.
Soekarno
Lantas menurumut mu, pemuda sekarang itu masih kenal nggak sih dengan tokoh – tokoh seperti Sudirman, Bung Tomo, atau Tan Malaka ?
Saya
Kalo nama sih tau, tapi mengenal secara detail tidak. Pemuda sekarang lebih mengenal Raisa, Maudy Ayunda, atau personil JKT48
Soekarno   : ..........

Soekarno
Dari penjelasanmu tadi, rasanya pemuda kita kini nggak pantas disebut pahlawan ya !
Saya
Ya, tapi nggak semua Bung,
Soekarno
Oh ya ?
Saya
Ya, ada timnas sepak bola u-19 yang belum lama ini mengharumkan nama Indonesia di level  internasional. Ada lagi para pengajar muda dari Indonesia Mengajar, yang rela meninggalkan kenyamanan hidup di kota, untuk datang ke pelosok terpencil negeri ini. Untuk mengemban misi memajukan pendidikan di sana. Ada lagi pegiat seni jalanan seperti Popo, yang menyuarakan keluh kesah sosial dalam bentuk mural. Banyak lah  yang lain, orang – orang keren yang berjuang di jalannya masing – masing. Meski nggak pernah di angkat oleh media.
Soekarno
Salut !! tapi kok bisa sampe nggak diangkat media ?
Saya 
Yah media sekarang itu yang punya orang – orang partai. Jadi lebih sering digunakan untuk kepentingan mereka sendiri.

Saya
Gantian dong Bung, sekarang saya yang nanya.
Soekarno
Oke,, silahkan..
Saya
Kalo menurut Bung Karno sendiri, siapa sih yang pantas disebut pahlawan ?
Soekarno
Pahlawan sejati itu orang yang tidak peduli, mereka tidak peduli dianggap atau tidak, tidak peduli dihargai atau tidak. Yang jelas meski dalam keheningan sekalipun, mereka tetap berjuang demi kemajuan orang – orang di sekitar mereka. Meskipun mungkin jalan mereka sangat berat, ya itu tadi, mereka tidak peduli. Dan satu hal lagi, pahlawan sejati justru adalah mereka yang nggak pernah mau untuk di sebut pahlawan.

Gue cuma bisa terdiam, mendengar jawaban itu. Lalu hari pun beranjak sore, langit tetap indah dengan semburat mendungnya. Menutup obrolan antara gue dan Soekarno ( imajiner ), dan dua gelas kopi hangat yang tinggal menyisakan ampas dan asap tipis.
2 Comments
Tweets
Komentar

2 komentar:

Einid Shandy mengatakan...

Suka bangeeet ide bikin postingnya, . Seriuss, di tengah2 baca sampe2 aku itu beneran lagi baca obrolan kamu sama Bung Karno, tapi lagi2 aku keinget kalo ini cuma imajiner kamu aja. Masuk banget kamu mengimajinasikan Bung Karno, .
Setuju deh Kak!!

salam kenal. ,

Unknown mengatakan...

terima kasih udah mampir dan komen hehehehe

salam kenal juga : ))

Posting Komentar