Apa lu tau tingkatan seorang gamer ? Apa saja kah tingkatan itu dan hal apa yang menjadi dasar pembagian tingkatan tersebut ?
Berikut ini adalah tulisan dari bung Jovian di grup FB, PC Gamers Indonesia.
Secara singkat gamer merupakan kata yang digunakan untuk menyebut seseorang yang bermain video game. Entah pada orang yang bermain game hanya untuk mengisi waktu luang saja ataukah pada orang yang sengaja meluangkan waktu untuk bermain game. Semuanya disebut dengan sebutan yang sama, “gamer”. Memang benar dari segi bahasa tidak ada yang salah dengan menyebut setiap orang yang bermain game sebagai gamer, terlepas dari tingkat fanatisme orang tersebut kepada game. Dan memang benar pula kebanyakan gamer hanya bermain game untuk sekedar mengisi waktu luang. Tapi perlu diketahui juga bahwa tak sedikit heavy otaku didunia ini yang memperlakukan game dalam hidupnya pada tingkatan yang jauh lebih tinggi.
Mereka orang yang selalu ingin memiliki pengetahuan lebih pada segala aspek game. Dan menganggap game tak hanya sebatas alat pengisi waktu luang saja, melainkan sebagai sesuatu yang agung, suci, dan merupakan bagian dari kehidupan spiritual dan keutuhan rohani mereka. Atau bahkan menganggap game sebagai bagian dari eksistensi mereka didunia ini.
Oleh karena itu kali ini saya akan mencoba mengklasifikasikan tingkatan-tingkatan gamers. Klasifikasi saya ini tidak berdasarkan berapa banyak uang yang mereka habiskan untuk game, berapa lama waktu yang mereka habiskan untuk bermain game dalam sehari, seberapa parah mereka kecanduan bermain game, atau hal - hal irrasional lainnya. Melainkan berdasarkan beberapa aspek yang lebih rasional:
-Minor Aspect.
Yaitu faktor-faktor yang menjadi minimum requirement pada beberapa tingkatan saja. Aspek ini meliputi seberapa kemampuan bahasa inggrisnya, seberapa tinggi pengetahuan sosialnya tentang gaming world, dan juga seberapa tinggi pengetahuan IT nya, khususnya yang berkaitan dengan seluk beluk didalam sebuah game.
-Major Aspect
Yaitu sebuah faktor utama yang menjadi requirement pada semua tingkatan; seberapa tinggi rasa ingin tahunya tentang inside video game, seberapa besar kecintaannya terhadap video game, seberapa tinggi anggapannya tentang sebuah video game dalam hidupnya, dan seperti apa anggapannya tentang relasi video game dengan kehidupan dan eksistensinya didunia ini.
Pada umumnya semakin tinggi tingkatan seseorang maka semakin lama waktu yang dihabiskannya untuk bermain game dan semakin banyak uang yang rela ia habiskan untuk gaming. Tapi… really, tidak bergantung pada itu. Dan juga jangan pedulikan penamaan yang saya berikan pada tiap tingkatan, saya sendiri bingung mau kasih nama apa. Honestly, it’s just random crap.
Ok, enough the sh*t, lets begin!
1. Casual
Inilah tingkatan paling bawah dikalangan gamers dan juga yang paling banyak. Casual gamers umumnya hanyalah orang-orang yang tidak tahu apa-apa tentang game dan jarang atau sekali-sekali saja bermain game, atau untuk mengisi waktu luang saja. Umunya mereka bermain game casual pada PC, tablet, dan ponsel. Dan sesuai namanya, mereka hanya bermain light casual game saja.
Para casual gamers umumnya sama sekali tidak dapat berbahasa inggris atau tidak memiliki kemampuan untuk mengerti bahasa yang ada dalam game. Mereka juga sama sekali tidak mengerti game pada genre yang kompleks, perusahaan-perusahaan pembuat game, berapa kira-kira budget sebuah game, jumlah staff yang diperlukan, dsb. Casual gamers juga bukan orang yang terlalu mengerti tentang internet, umumnya mereka menggunakan internet hanya sebatas untuk facebook, twitter, youtube, dsb. Mereka tak paham sekedar skema yang paling sederhana bagaimana sebuah computer mengakses internet, client mengirim request ke server (upload) lalu server membalasnya dengan mengirim data ke client (download). Atau bahkan mereka tak pernah tahu kalau mengakses internet = mengakses komputer orang lain, LOL. Jadi bisa digeneralisasi kalau casual gamers bukan hanya orang yang tak paham game, tapi juga orang yang benar-benar ignorant masalah IT.
Pendeknya, Casual gamers adalah burung unta yang membenamkan kepalanya pada pasir. Yaitu orang-orang yang bermain game tapi tidak memiliki pengetahuan apa-apa dan tidak memiliki ketertarikan untuk mencari tahu apa yang dia mainkan. Ibaratnya mereka terus saja makan dengan menutup mata tanpa tahu bahan-bahan makanan yang dimakannya. Sekalipun ada upil di makanannya mereka juga tidak akan tahu dan tidak peduli dikarenakan ignorance dan laziness mereka.
2. Countryside
Countryside gamers. Tingkatan selanjutnya yang merupakan evolusi dari casual gamers. Bisa dibilang countryside gamers adalah casual gamer yang mulai mencoba game pada genre yang lebih kompleks tapi belum terlalu membutuhkan pengetahuan gaming seperti FPS, Action Adventure, dsb. Tapi tetap saja belum cukup berpengetahuan untuk memainkan game dengan kompleksitas diatasnya seperti RPG, RTS, dan Visual Novel. Dan walaupun mereka bisa main belum tentu mereka mengerti apa yang mereka mainkan karena kemampuan bahasa inggrisnya yang masih minim.
Dari segi pengetahuan tak ada yang berbeda kecuali kemampuan bahasa inggris yang lebih baik dan pengetahuan lebih untuk game yang lebih kompleks.
Kecintaan dan paham mereka terhadap game umumnya tak jauh beda dengan casual gamers, mereka hanya menganggap game sebagai hiburan belaka dan tidak menjadikan game sebagai hobi.
Overall, mereka bisa juga disebut casual gamers yang sudah mulai bermain game yang lebih kompleks.
3. Vanilla
Inilah tingkatan rata-rata gamers pada umumnya. Minimum knowledge requirements untuk vanilla gamers adalah kemampuan bahasa inggris untuk mengerti isi game secara keseluruhan dan kemampuan untuk bermain semua genre game.
Minimum knowledge requirements lainnya ialah vanilla gamers setidaknya harus tahu credit dari game yang dimainkannya secara garis besar yang meliputi developer dan publishernya. Atau mungkin juga team yang terlibat dalam game.
Lalu minimum feeling requirement nya adalah menjadikan video game sebagai hobi sehingga membuatnya ingin meluangkan waktu untuk bermain game, bukan hanya bermain game untuk mengisi waktu luang saja. Walaupun begitu vanilla gamers tidak menganggap game sebagai sesuatu yang “wah”, melainkan game tak lebih dari sebuah hiburan. Hanya saja yang membedakannya dari tingkatan dibawahnya adalah bagi vanilla gamers video game adalaah sebuah hobi.
Untuk tingkatan ini ke atas, kemampuan bahasa dan kemampuan bermain game sudah tidak menjadi requirement lagi karena dari tingkatan ini ke atas gamers harus bisa memahami alur cerita game sepenuhnya dan memiliki kemampuan memainkan game semua genre.
( bersambung )
Selasa, 14 Januari 2014
0 Comments
Tweets
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
