Minggu, 26 Januari 2014

Tingkatan Seorang Gamer ( bag -2 )

Postingan ini adalah kelanjutan dari postingan sebelumnya..

4. Hardcore

Harcore gamers adalah orang-orang yang sangat mencintai video game dan menganggap video game merupakan elemen yang sangat penting dalam hidupnya. Bagi mereka video game adalah kebutuhan primer sehingga aktivitas hidupnya akan terganggu jika tidak ada game. Mereka selalu ingin mengetahui segala hal yang mereka tidak ketahui tentang game dan selalu berusaha menyempatkan dirinya untuk mempelajari hal itu.

Hardcore gamers umumnya tingkatan pertama yang mulai benar-benar mengidolakan game developers hingga menjadi fanboy, khususnya team yang membuat game - game favoritnya. Walaupun tak jarang Vanilla gamers yang juga demikian. Bedanya kalau fanboy dikalangan vanilla gamers masih sangat minoritas.

Minimum knowledge requirements untuk hardcore gamers adalah mengetahui semua yang perlu diketahui sebagai seseorang yang suka bermain game. Hardcore gamers tahu tentang detil grafik dari sebuah game, bisa membedakan cel-shaded 3D dan 3D biasa, bisa membedakan mana sprites yang mana model, jika ditunjukkan 2 buah game mereka tahu yang mana memiliki lebih banyak polygon count, mana yang jaggy, mana yg menggunakan tekstur berresolusi lebih tinggi mana yang kasar, mana yang memiliki lighting yang lebih fluid mana yang crap seperti anime 8 bit, dsb.

Hardcore gamers selalu ingin terdepan tentang pengetahuan akan game. Setiap ada kesempatan mereka akan selalu berusaha mencari tahu apa yang mereka tidak tahu.

Lalu di level pengetahuan yang lebih tinggi lagi adalah gamers bisa melakukan romhacking dan modding, mereka bisa membuat translation patch, membuat emulator suatu sytem, membuat mod yang berupa extracontent atau bahkan texture/model fix pada texture/model yang crap dan tidak effisien, Anti-piracy breaker patch jika disebuah game dipasangi anti-piracy protection tertentu, dan game programming atau modeling lainnya yang sederajat. Biasanya programmers setingkat ini bekerja bersama sebagai team dengan orang-orang yang tidak dikenalnya yang baru ditemuinya di internet.

Lalu di level gamers yang lebih cerdas, gamers bisa melakukan romhacking dan modding pada bagian-bagian yang lebih kompleks seperti memberbaiki algoritma AI jika suatu game AI nya goblok, memperbaiki algoritma - algoritma tak perlu yang hanya menambah beban pada CPU saja, mampu memperbaiki algoritma jika ada infinite loop meskipun tak memiliki flowchart dan source code-nya, mampu membuat patch untuk merelokasi resources usage yang kurang efisien dan programming - programming lainnya yang sederajat. Programmers seperti ini biasanya lonewolf jenius yang tidak mengenal kerja sama, mereka mengerjakan suatu proyek sendirian dan tidak sudi membagi creditnya dengan orang lain.

Lalu level yang paling tinggi, gamers bisa membuat profesional game. Tapi kalau sudah sampai sini namanya bukan gamers lagi, tapi game developers yang bekerja game developer company beneran.

Untuk tingkat hardcore dan tingkatan diatasnya IT knowledge sudah bukan menjadi requirement lagi, yang membedakan hardcore dan tingkatan-tingkatan diatasnya hanyalah feeling dan rasa keingintahuannya.


5. Maniac

Jika hardcore gamers masih menganggap video game sebagai kebutuhan primer, Maniac gamers menganggap video game sebagai sesuatu yang lebih dari itu.

Kebutuhan primer merupakan kebutuhan yang akan sangat menganggu hidup seseorang kalau tidak dipenuhi yaitu pangan, papan, sandang, atau ditambah game kalau menurut hardcore gamers. Jadi singkatnya kebutuhan primer merupakan requirements to life IN PROPER WAY as how it should be.

Lalu adakah kebutuhan yang lebih penting dari kebutuhan primer itu? Ada! Kalau kebutuhan primer adalah requirements to life in proper way as how it should be, masih ada kebutuhan diatasnya, yaitu REQUIREMENTS TO JUST LIFE. Kebutuhan yang kalau tidak dipenuhi akan menyebabkan kematian, misalnya organ - organ dalam tubuh kita; jantung, paru-paru, ginjal dan organ-organ lainnya yang mustahil kita bisa hidup tanpanya.

So yeah, bagi Maniac gamers, game adalah sesuatu yang sama pentingnya dengan organ-organ vital tersebut. Jadi no game = no life.

Maniac gamers juga golongan yang paling menghargai devs. Mereka anti piracy, tidak pernah membeli game bajakan dan sangat menghormati mereka sebagai figure yang menginspirasi mereka untuk dapat bermimpi menjadi seperti itu. Mereka akan tersinggung jika devs idolanya dilecehkan sebagaimana ia tersinggung jika negaranya dilecehkan. Dan jika mereka adalah debater seperti saya, maka mereka akan memperjuangkannya sekuat pikiran mereka hingga orang yang melecehkan tadi speechless.

Maniac gamers memiliki semangat yang sangat tinggi untuk mempelajari segala hal tentang game. Kalau hardcore gamers masih menyesuaikan dengan waktu yang tepat untuk belajar, Maniac sudah tidak lagi. Dimanapun, kapanpun, dalam kondisi apapun asalkan dia memiliki kemampuan untuk belajar maka ia akan melakukannya, termasuk saat guru PKn menerangkan pelajaran dikelas meski sudah 2x ketahuan guru.

Iwata bagi Maniac gamers sama tingginya dan sama terhormatnya dengan Soekarno bagi orang nasionalis. Dan juga orang-orang Nintendo lainnya, dimata mereka sama berharganya dengan pahlawan nasional bagi orang-orang nasionalis.

Saya dapat mengerti mereka sekalipun manusia generic tak akan bisa mengerti perasaan dan pola pikir mereka yang sangat extraordinary. Dikarenakan mereka adalah para revolusioner, dan sejarah telah menunjukkan kalau dalam setiap revolusi besar manusia, peranan manusia generic tak lebih dari pupuk bawang atau sekedar pion. Dan saya dapat memahami mereka pun dikarenakan saya bukan manusia generic. I’m different as they’re.

6. Lunatic

They’re extraordinary. They’re beyond our mind. But they’re really there. This human revolution stay coexisted because of them. Who? The LUNATIC!

Jauh melampaui bima sakti menembus pilar-pilar micron yang gagah menjulang mata mereka memandang. Putaran-putaran halus inti CPU beralun mesra mengiringi arsitektur 256 bit-nya, menyebrangi lautan ether mereka berfikir. Ucapan mereka mengumandangkan kebijaksanaan, me-render signal - signal bitmap hingga memvisualisasikan pergolakan ruang dan waktu yang sempurna dan melampaui kecepatan cahaya menunjukkan bahwa negative adalah bilangan yang nyata. Siapa? Sang LUNATIC!

The Lunatic gamers, absolutely inilah tingkatan tertinggi yang mampu diraih gamers yang diperoleh setelah menembus batasan pikiran manusia.

Jika relasi antara Maniac dan video game dapat diibaratkan sebuah koloid, relasi antara Lunatic dan video game dapat diibaratkan senyawa atom. 2+2=9 & 9-2=2

Video game sudah bukan lagi organ vital yang jika dipisahkan dari induk akan menyebabkan kematian. Melainkan suatu keberadaan non-dimensional yang telah melebur dengan jiwa membentuk sesuatu yang lebih solid dari sebelumya hingga tiada suatu kekuatan apapun yang mampu memisahkannya.

Jika bagi Maniac no game = instan death, bagi lunatic no game = time paradox. Mereka eksis karena game yang telah bersatu dengan jiwa mereka dan jika game itu dicabut, jiwa mereka akan melebur semakin kecil dan kecil melebihi perjalanan astral, hingga menjadi materi yang lebih kecil dari quark sekalipun dan tetap terus mengecil, memutarbalikkan dimensi menuju waktu dimana mereka belum seharusnya eksis.

Jika the maniac menganggap Nintendo sebagai sebuah jalan hidup. Lunatic menganggap Nintendo sebagai sebuah agama dengan Satoru Iwata adalah Tuhannya sedangkan Shigeru Miyamoto, Eiji Aonuma, dan Satoshi Tajiri adalah dewanya.

Yes, thats all !
jadi, lo tingkatan yang mana ?
0 Comments
Tweets
Komentar

0 komentar:

Posting Komentar